Memori Kebangkitan Nasional

Kebangkitan Nasional diperingati di Indonesia setiap tanggal 20 Mei. Kenapa tanggal tersebut? Siapa yang tahu, cung! Yak, karena tanggal tersebut konon merupakan tanggal berdirinya organisasi Budi Utomo, pada tahun 1908. Kabarnya, Budi Utomo adalah pelopor perjuangan kebangsaan secara organisasi yang modern dan strategis. Budi Utomo terdiri dari orang-orang yang terpelajar, terdidik, sehingga sangat diharapkan untuk bisa membangkitkan nasionalisme saat itu.

Tokoh-tokohnya siapa saja, masihkah ingat? Ya yang utama adalah dr. Sutomo, seorang mahasiswa STOVIA. Bersama kawan-kawannya para mahasiswa dan kaum ningrat, mereka mendirikan Budi Utomo untuk memajukan kehidupan orang-orang Jawa saat itu.

Tapi ternyata hanya berhenti di situ saja. Selesai.

Buku sejarah bercerita terlalu sedikit tentang Budi Utomo.

Budi Utomo sendiri bubar sepuluh tahun sebelum proklamasi kemerdekaan negara Indonesia. Ternyata juga Budi Utomo hanya sebatas untuk orang Jawa dan Madura saja. Selain suku tersebut, tidak mungkin bagi seseorang untuk menjadi anggota (Majalah An Najah, Mei 2008). Artinya, belum bisa dikatakan organisasi atau pun pergerakan yang sifatnya nasional, apalagi memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Budi Utomo juga ternyata lebih mirip gerakan nasionalis yang takut terhadap Islam, mereka menganggap Islam sebagai “terlalu tinggi” untuk dipahami, dan menganggap Islam hanya menghinakan wanita dan tidak memberi derajat yang sepantasnya (Perkembangan Pemikiran Muhammadiyah dari Masa ke Masa, 1985: hal 36).

Beberapa tahun sebelum Budi Utomo berdiri, sudah lebih dulu berdiri Sarekat Islam (SI, sebelumnya bernama Sarekat Dagang Islam) pada tahun 1905, oleh Haji Samanhudi dan kawan-kawannya. Ini jauh bersifat nasional, di mana para pengurusnya berasal dari berbagai macam suku di Indonesia, mulai dari Sumatra Barat, Jawa, hingga Maluku. Mereka juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan menentang penjajah Belanda saat itu. Berbeda dengan Budi Utomo yang tidak menentang, tetapi hanya sekedar menerima pendidikan Belanda demi kemajuan suku sendiri (Majalah An Najah, Mei 2008).

Setelah itu juga muncul Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama pada awal tahun 1910-an. Keanggotaan organisasi tersebut juga jauh lebih terbuka dan sifat perjuangannya pun lebih terasa. Bung Tomo, Jenderal Sudirman, adalah patriot bangsa yang juga seorang da’i. Sebagian dari kita tentu pernah mendengar teriakan-teriakan takbir Bung Tomo yang diputar ulang di televisi atau radio ketika hari Pahlawan 10 November (Akhir-akhir ini sudah jarang muncul lagi). Demikian juga Jenderal Sudirman, yang kemasyhuran strategi gerilyanya menutupi keluhan penyakit paru-paru yang dialaminya.

Membela tanah air bukanlah hal tercela. Bahkan, ini termasuk ajaran agama. Tak percaya? Sok atuh, silakeun dipirsani ayat 40 – 41 dari surat al Hajj berikut ini.

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.”

Kemudian, Allah juga melanjutkan ayat tersebut.

Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,

Yah, memang, ketika Belanda menjajah Indonesia, mungkin nenek moyang sebagian di antara kita masih tinggal di nusantara. Tetapi sesungguhnya maksud mereka menjajah Indonesia tidak lain tidak bukan adalah untuk menguasai negeri ini. Sehingga jelas, pribumi harus disingkirkan. Sebagian dari mereka dipekerjakan di Suriname, Afrika Selatan, dll. Sementara di Indonesia sendiri mereka juga tetap menjadi rakyat jelata, berada di bawah kangkangan VOC dan mereka kaum pribumi yang setia menjadi bawahan penjilat penjajah. Rakyat pribumi menderita di tanah air mereka sendiri. Inilah yang terjadi di Palestina saat ini.

Bangsa Palestina yang sekarang ini terjajah Israel adalah bangsa dan suku asli yang mendiami tanah Palestina. Mereka terdiri dari orang Islam dan Nasrani. Sedangkan bagi orang Israel, yang merupakan orang Yahudi, untuk saat ini sebagian besar penganut agama Yahudi meyakini belum saatnya berkumpul di suatu negara tersendiri. Penganut Yahudi terbagi dua, yaitu Yahudi yang berpedoman kitab Taurat, dan Yahudi yang berpedoman kitab Talmud.

Pemeluk kitab Tauratlah yang masih yakin bahwa mereka saat ini masih diperintahkan untuk menyebar di seluruh dunia. Sedangkan pemeluk kitab Talmud meyakini berkumpul di negara Israel saat ini adalah jalan terbaik mereka.

Nah, kembali ke Indonesia.

Pertanyaannya adalah, apakah Indonesia sudah bebas dari penjajahan?

Kalau kemerdekaan secara kedaulatan, mungkin sudah, ya, sejak 1945. Tapi ternyata kemerdekaan kedaulatan itu tidak membuat Indonesia menjadi negara maju. Yang ada justru terpuruk, tenggelam, rendah. Sederet gelar sudah disandang di bahu negara kita. Negara terkorup, jumlah penduduk miskin yang besar, moral pemuda yang rusak, artis yang memberi contoh buruk, hingga harga kebutuhan hidup yang terus mencekik rakyat miskin.

Negara kita sedang jatuh. Terpuruk. Tersandung lalu tak pernah bangun. Kalau pun mencoba bangun, susah dan tertatih-tatih, harus dipapah susah payah.

Tapi jangan khawatir, bukankah orang bijak pernah berkata, tidaklah penting seberapa sering kita jatuh, tapi yang penting adalah seberapa sering kita berusaha bangkit tiap kali jatuh. Kalau pernah nonton film superhero, ada dialog bijak begini

“Mengapa kita terjatuh?”

“Agar bisa bangkit kembali.”

Kebangkitan Nasional dimulai dari kebangkitan diri sendiri. Masyarakat adalah cerminan dari banyak pribadi individual. Jadi, mari kita mulai perbaikan masyarakat dari perbaikan terhadap diri sendiri. Ibda’ binafsik..! Tidak  perlu menunggu orang lain baik, tapi perbaikilah diri sendiri. InsyaAllah, aura perbaikan diri itu akan memancarkan inspirasi kebaikan terhadap orang lain juga.

-fadhli.mohamad@gmail.com-

Sumber:

“Perkembangan Pemikiran Muhammadiyah dari Masa ke Masa”. Menyambut Muktamar ke-41. Sukrianta & Abdul Munir Mulkhan (ed). 1985. Yogyakarta: Penerbit Dua Dimensi

“Distorsi Sejarah Islam” Majalah An Najah edisi 33. Mei 2008

Categories: Agama, Pendidikan, Tulisanmu | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: