Baca..baca..baca..

Beberapa hari lalu, saya mengikuti sebuah acara bertajuk “Pembinaan Pengelola Perpustakaan Masjid” yang diadakan Kementerian Agama Kabupaten Bantul. Diikuti oleh seluruh pengurus perpustakaan masjid se-Bantul, dan juga pengurus takmir yang masjidnya belum memiliki perpustakaan (dan saya termasuk kelompok yang kedua.. ^_^). Dan nampaknya memang didominasi kelompok kedua.

Pembicaranya adalah …dari Kantor Kemenag Propinsi DIY dan dari Pemimpin Taman Bacaan Masyarakat Cakruk Pintar. Pembicara pertama lebih banyak mengupas seputar urgensi peran ketakmiran dalam hidup bermasyarakat, membuat para takmir tetap bersemangat mengembang tugas para takmir yang tak pernah digaji ini. Sementara pembicara kedua mengeksplorasi dunia buku dan perpustakaan yang dikelolanya di masyarakat selama ini. TBM Cakruk Pintar sendiri adalah sebuah perpustakaan kecil terbuka di kampung Nologaten, sebuah kampung dekat Museum Affandi di Yogyakarta, yang jam operasionalnya – catat – 24 jam! (senyumkita.com)

Bagi saya sendiri, memang merupakan satu impian pribadi terbesar untuk menghadirkan semacam perpustakaan, atau taman bacaan bagi masyarakat di lingkungan tempat saya tinggal. Di benak saya, kalau kita punya banyak buku, tapi hanya dianggurkan saja di kamar, adalah hal yang sungguh disayangkan. Pembacanya hanya satu, tapi bukunya banyak. Jelas, lebih banyak buku yang menganggur daripada yang dibaca. Dan buku yang masih rapi pertanda buku itu masih belum banyak dibaca, dan artinya, ilmu dalam buku itu masih belum banyak yang tahu.

Masyarakat Indonesia sendiri sepertinya belum memiliki budaya membaca yang baik. Mereka lebih banyak tersedot oleh hisapan elektromagnetik kotak ajaib bernama televisi. Bahkan sebagian anak di kota jarang beraktivitas di luar ruangan secara sosial karena lebih suka berada di depan layar televisi. Tak mau kalah, orang tua juga secara sadar mencontohkan perilaku ini di depan anak-anak. Kompak!

Padahal, membaca sebagai aktivitas jauh lebih aktif daripada menonton televisi. Ketika membaca, otak kita lebih bekerja keras mengolah informasi yang masuk, sehingga daya pikir kita lebih terasah. Beda dengan menonton, cukup menerima secara pasif gambar dan suara yang muncul secara tertata dan atraktif. Hampir tak ada tantangan sama sekali! Sungguh beda dengan dua kegiatan dasar manusia berikutnya: membaca dan menulis, yang butuh lebih banyak aktivitas otak kanan dan kiri kita. Lebih seimbang!

Bagi masyarakat, kehadiran perpustakaan adalah sangat penting. Sangat sangat penting. Selain mengurangi dampak negatif gelombang radiasi televisi ke otak melalui polusi suara dan gambar, membaca juga memberikan ketenangan (dibaca dengan suasana yang lebih tenang), dan memberikan ilmu dengan lebih detail, swalayan, dan bisa diakses berulang kali seperlu kita. Petani butuh informasi pertanian, warga pengusaha/calon pengusaha butuh teknik-teknik wirausaha, pelajar butuh pengetahuan akademik, dan sebagainya.

Maka, jelas perpustakaan seharusnya menjadi tempat berkumpulnya masyarakat pecinta ilmu, bahkan bisa menjadi “mall pendidikan” yang lebih manfaat secara produktif ketimbang mall biasa yang memenuhi nafsu konsumtif.

Bukankah perintah termula yang diturunkan Allah kepada Muhammad saw (untuk umat-Nya) adalah “bacalah”?

Anda yang menentukan.

oleh Mohamad Fadhli

Mahasiswa asal Purbalingga di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Yogyakarta dan Bahasa Arab dan Studi Islam, Ma’had Ali bin Abi Thalib, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Categories: Pendidikan, Tulisanmu | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: