FINE TUNING

Oleh Yunanti Tri Wiranti (Korwil Purbalingga)

Malam ini tak seperti malam kemarin. Mana bulan yang terang itu, entah kenapa aku tidak suka dengan kondisi langit malam ini, hitam tidak, merah juga tidak. Beruntung ada sebuah novel biografi Muhammad Saw. Lelaki Penggenggam Hujan-nya Tasaro GK, lumayan bisa menjadi teman pengusir sepiku (tak apalah walau buku ini pinjaman. Bagi pemilik buku ini syukron sudah mengikhlaskan bukunya untuk dipinjam ^^).

Ruhku sedang melanglang buana ke masa perang Uhud yang heroik itu terjadi, kadang sesekali kurasakan sedang berada di belakang kuduk Rasulullah Saw – benar kata A.Fuadi penulis novel Negeri 5 Menara & Ranah 3 Warna.

Ruhku juga sedang melanglang buana ke sebuah pelosok di Persia tahun 616 Masehi, Kuil Gunung Sistan. Terbayang para kaum penyembah api – Zoroaster – di masa itu yang sedang ketakutan akan kemunculan sang Nabi baru yang sudah dinukilkan dalam kitab yang dibawa nabi mereka, Zardusht. Khosrou sang penguasa Persia pun sedang gundah gulana karena Kashva si pemuda cerdas mengabarkan bahwa para pengikut Nabi baru itu akan menjadikan runtuhnya hegemoni kejayaan Persia.

Ah, seketika langlangan buanaku langsung berpindah menembus batas dan waktu, dari pelosok Persia abad ke-7 menuju ke pelosok kampung halaman abad ke-21 sekarang. Sudah empat bulan aku di sini, cepat juga rasanya, tak terasa sekarang sudah menjadi ibu guru. Yah, bukan hanya ibu guru Matematika tapi semua mata pelajaran kecuali bahasa Inggris dan Olah raga tentunya.

Lima hari lalu aku mengikuti sebuah daurohi, dauroh itu mengingatkanku akan tiga tahun lalu, karena pernah mengikuti daurah semacam ini di kampusku dulu. Dengan muatan yang kurang lebih sama tetapi waktu, tempat, dan orang di samping kanan kiri yang berbeda. Sebelum acara dimulai, sempat kuberbincang dengan salah satu saudara baruku di sini. Ada wacana yang menarik yang memang pas sekali dengan kondisiku atau mungkin kondisi kami saat ini, yaitu tentang “Penyamaan Frekuensi” atau dalam bahasa Inggrisnya “Fine Tuning”.

Bingung mau mulai dari mana. Hmm…perlu adanya penyamaan frekuensi berarti bermula karena adanya perbedaan. Banyak sekali frekuensi yang harus disamakan ketika awal aku pulang ke kota ini. Mungkin bisa dianalogikan seperti, dari singa menjadi kucing dan kembali menjadi singa (mekso tenan). ADKii ketika di kampus seperti singa, garang. Tetapi ketika pulang kampung berubah menjadi kucing, tidak lagi garang…(mohon maaf bagi yang tidak berkenan dengan istilah ini…^^). Kita memang sering menjadi singa yang garang ketika di kampus tetapi menjadi kucing manis dan imut-imut ketika kembali ke kampung halaman.

Pertama yang jelas adalah penyamaan frekuensi dengan keluarga baruku di sini. Sebagian besar adalah ummahatiii, dengan kondisi mulai dari pemakluman disiplin waktu, semangat dakwah mereka, obrolan-obrolan mereka, (wah aku bosan sebenarnya bahas tentang ini). Bahkan seseorang butuh waktu cukup lama untuk dapat menyamakan frekuensi dalam masalah ini, sampai 3 bulan tak liqoiv karena belum siap menerima keluarga barunya. Semoga tidak berlaku denganku.

Kedua, amanahku sebagai guru SD dan pengalaman pertamaku langsung di kelas satu. Penyamaan frekuensi dengan anak-anak usia 6 hingga 7 tahun. Yang paling berat adalah ketika aku diminta mengajar Bahasa Jawa (Bahasa Jawaku kan acak adut).

Ketiga, hmm kembali dihadapkan dengan ibu-ibu. Yah, penyamaan frekuensi dengan ibu-ibu ketika pertama kali mengisi majelis taklim, lagi-lagi bertemu dengan Bahasa Jawa.

Keempat, amanah baruku di FLPv. Tahap paling berat kurasa, apalagi setiap kali ikut syuro dan ketika ikut upgrading kemarin. Inilah penyamaan frekuensi yang lumayan, lah. Kata mba Denok (piss mba..), harus menyamakan frekuensi dari AM ke FM..hihihi…

Kesamaan, keserupaan, atau keselarasan di antara beberapa hal adalah alasan mengapa hal-hal itu dinilai dan disikapi secara sama, serupa, atau senada sesuai konteksnya. Dan perbedaan, perlawanan, atau pertentangan yang terdapat di antara beberapa hal adalah alasan mengapa hal-hal itu dinilai dan disikapi secara berbeda, berlawanan, atau bertentangan sesuai konteksnya. Ini berarti bahwa penilaian dan penyikapan proporsional kita terhadap beberapa hal itu sangat ditentukan oleh pengenalan kita terhadap letak dan tingkat kesamaan serta perbedaan hal-hal tersebut. Allah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Dan Allah jadikan untuk kalian pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran agar kalian bersyukur” (QS. An-Nahl: 78).

Aku yakin babak demi babak dalam setiap episode kehidupan kita tidak pernah terlepas dari skenario Allah. Begitu pun ketika kita memutuskan untuk menjadi aktivis dakwah – sebutan yang begitu berat aku rasakan. Ketika hidayah untuk ber-Islam secara kaffah datang menyapa, kita dituntut untuk selalu memperbaiki diri. Menjadi baik memerlukan proses, tetapi kita tidak bisa menunggu sampai menjadi benar-benar baik, baru mau mengajak yang lain ikut baik.

Aku begitu terkesan dengan taushiyah yang disampaikan oleh seorang ummahat dalam memaknai babak demi babak dalam setiap episode kehidupan, ”Tak ada yang sia-sia. Apa yang sudah kita lewati semuanya indah. Ya! Semua terasa indah bila dibingkai dengan bingkai dakwah.”

Wallohu A’lam BishShowab.

i Dauroh = semacam seminar tentang topik-topik yang khusus

ii ADK = Aktivis Dakwah Kampus

iii Ummahat = Ibu-ibu, Bhs Arab

iv Liqo’ = secara bahasa artinya “pertemuan”, di sini diartikan “kelompok pengajian”

v FLP = Forum Lingkar Pena, organisasi penulis muslim (baik yang masih belajar maupun sudah mahir.. mau ikut? boleh..)

Categories: Agama, Tulisanmu | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: