Revolusi Sekolah (Review Buku)

by Fatin Rohmah Nur Wahidah*

Yang saya tuliskan ini adalah bagian dari isi buku terbitan DAR! Mizan, 2006, karya Fahd Djibran berjudul Revolusi Sekolah. Izinkan saya berbagi, kawan^^…

Beberapa orang terkaya di dunia, salah satunya Bill Gates tidak lulus sekolah. Ia memang lebih memilih tidak sekolah dan nekat mengambil jalan kehidupan lain. Tapi, ternyata ia sukses. Kenapa? Karena ia menemukan kehidupannya. Ia pikir, sekolah tidak mendidiknya menjadi seorang boss besar tetapi hanya menjadi pekerja.

Hemm.. coba ingat, ketika guru TK kita bertanya, mau jadi apa kelak? Kebanyakan mengarahkan kita menjadi dokter, insinyur, pilot, dan sederet profesi pekerja lainnya yang terkait kapitalisme. Jarang ada yang dengan senang hati mengarahkan/menyambut minat muridnya menjadi pelukis, padahal pelajaran kita lebih sering menggambar, atau menjadi seniman, dan sebagainya.

Menurut buku tersebut, sekolah saja ternyata tidak cukup untuk menjadikan kita sukses. Lalu apa? Yang lebih menentukan adalah ide, keyakinan, visi masa depan yang kuat, keberanian mengambil risiko, kemauan, dan tekad yang kuat.

Islam juga bukan mengajarkan kita untuk bersekolah, melainkan menuntut ilmu. Seperti hadis Nabi, “uthlub al-‘ilm walau bishin”. Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri China. Islam menuntut kita untuk mendapat ilmu/pendidikan bukan sekolahnya. Pendidikan tidak selalu bernama sekolah, bukan? Berarti ketika sekolah, yang lebih penting adalah pendidikannya. Dapat apa kita dari sekolah? Perubahan apa yang kita dapat setelah bersekolah? Dan sebagainya.

Sekolah harus lebih dimaknai lebih dari sekadar rutinitas belaka. Karena sekali lagi, yang lebih penting adalah ilmunya. Ketika kita sudah menyadari hal itu, maka tidak akan ada lagi menyontek, membolos, malas mengerjakan PR atau tugas, dan hal-hal tidak menyenangkan lain yang sering terjadi di sekolah.

Harus ada revolusi sekolah. Harus ada perubahan pola pikir agar orientasi/tujuan kita bukan hanya masalah nilai rapot. Kita harus punya kesadaran total untuk memahami apa tujuan kita bersekolah. Salah satu dari empat model kesadaran menurut Paulo Freire adalah kesadaran naif. Yaitu ketika kita ingin sukses tapi tidak tahu bagaimana caranya/tidak tahu apa yang harus dilakukan. Padahal semestinya kita punya kesadaran transformatif, sadar apa tujuan akhir kita bersekolah. Ingin seperti apa kita nanti, apa saja yang bisa kita lakukan, dan apa saja yang sudah kita lakukan selama ini untuk mencapai tujuan itu, agar tidak membebek saja mengikuti teman, kemauan orang tua, atau karena paksaan.

Pada awalnya, sekolah hanyalah kegiatan sampingan untuk mengisi waktu luang. Itulah sebabnya dinamakan scholae, yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti waktu luang/waktu kosong. Aktivitasnya dilakukan oleh orang-orang yang ingin mencari ilmu dan kebijaksanaan kepada para filsuf. Atau sebaliknya, para filsuf yang berkeliling pada waktu luang mengajarkan ilmu dan kebijaksanaan kepada orang-orang. Tempatnya pun di alam bebas atau di manapun yang mereka inginkan. Hasilnya, pada waktu itu, sekolah sukses sebagai sarana transfer ilmu karena antara pengajar dan yang diajar sama-sama ikhlas ingin saling belajar.

Selain masyarakat Yunani, hal yang sama juga terjadi pada masa kerajaan Hindu-Budha, masa Rasulullah, dan masa para wali di Indonesia. Namun sejak revolusi industri di Inggris, sekolah mulai diinstitusikan dan diformalkan. Penemuan teknologi dan mesin-mesin baru mendorong bangsa Eropa menjelajahi dunia mencari sumber bahan mentah untuk modal. Penjajahan, kolonialisme, dan imperialisme yang dilakukan ternyata juga untuk mendapat pekerja yang siap dibayar rendah. Makanya dibentuk sekolah yang formal, tersekat dinding-dinding, ada guru sebagai pengajar, dan ada bahan ajar. Bahan ajar disiapkan untuk dipelajari murid agar mereka “siap pakai” sesuai kebutuhan industri yang mereka kembangkan. Sekolah diarahkan guna menciptakan pegawai rendahan untuk kepentingan penjajah sehingga sekolah hanya menghasilkan orang-orang pesanan yang nantinya jadi pegawai, tak punya identitas kemanusiaan.

Itulah yang terjadi sampai sekarang. Bagi kita yang menjadikan sekolah untuk kehidupan, bersekolah adalah untuk memenuhi kehidupan dengan cara bekerja, dan memang begitulah faktanya. Kita akan dan harus terus bekerja untuk kehidupan kita. Akan tetapi, yang selama ini salah adalah kita terlalu banyak dibentuk menjadi sesuatu. Kita tak punya kebebasan untuk memilih pilihan kita sendiri, apalagi dengan adanya penjurusan. Bisa kita hitung berapa persen antara kemauan kita yang sesungguhnya dengan campur tangan sekolah dalam menentukan kita menjadi apa dan siapa.

Nah, kalau kamu pengen sukses dan memilih langkah seperti Bill Gates, kamu harus nekat dan percaya bisa sehebat dia. Tapi kalau ga, mending belajar aja yang bener di sekolah^^. Sekali lagi bukan hanya datang ke sekolah, cari gebetan, nongkrong sama temen-temen, atau cuma pingin foya-foya ketemu temen2. Perbaiki niat kamu untuk bisa dapet ilmu. Munculkan kesadaran transformatif-mu.  Buku ini akan memberikan gambaran lebih jelas dan semangat yang lebih luar biasa kalau kamu baca sendiri. Hehehe…  dibahas pula bentuk-bentuk kekerasan yang ada di sekolah. Bahkan yang termasuk kekerasan non-fisik (psikologis) yang sangat halus sekalipun terkadang terjadi di sekolah tanpa kita sadari.

Penulis juga memberikan cerita pengalamannya dulu ketika melakukan revolusi sekolah. Karena sistem dalam sekolah yang sulit untuk “diotak-atik” bagi anak-anak ukuran seperti kita, makanya ada beberapa jurus yang disarankan untuk bisa mencapai revolusi sekolah. Banyak usaha untuk melakukan perubahan secara hebat ke arah yang lebih hebat dengan segera di sekolah, antara lain: tentunya dimulai dari jurus merevolusi diri sendiri, selain itu jurus membentuk opini, berani “speak out”, mencari pendukung, membuka ruang dialog, tebar senyum, membuat atribut anti kekerasan, melakukan perlawanan, pemberian penghargaan pura-pura, mengkritisi dengan drama, hingga jurus mencari advokasi.  Seru deh pokoknya! Selamat membaca. Semoga bermanfaat!^^…

*penulis adalah mahasiswi aktif di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan juga alumni SMA N 1 Purbalingga

 

Categories: Pendidikan, Tulisanmu | Tags: , , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Revolusi Sekolah (Review Buku)

  1. Pingback: Revolusi Sekolah (Review Buku) | Nafsul Muthmainnah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: